Sabtu, 07 November 2026

Satori Pedia: Melodi Stasiun Kereta di Jepang Ketika Musik Menjadi Identitas Sebuah Tempat

 





Konnichiwa, Mina-san!

Tahukah kamu? Jepang memiliki keunikan dalam sistem transportasi keretanya, lho! Di beberapa stasiun, terdapat melodi khusus yang diputar sebagai tanda bahwa kereta akan segera berangkat. Melodi ini dikenal dengan sebutan Hassha Melody (発車メロディー).

Menariknya, setiap stasiun bisa memiliki melodi yang berbeda, bahkan ada yang menggunakan lagu dari anime populer. Penasaran bagaimana musik bisa menjadi identitas sebuah stasiun di Jepang? Yuk, simak pembahasannya!


Mengenal Hassha Melody di Jepang


Jepang dikenal sebagai negara yang memiliki sistem transportasi umum yang teratur dan terkenal dengan ketepatan waktunya. Namun, ada satu hal menarik yang membuat pengalaman menggunakan kereta di Jepang terasa berbeda, yaitu keberadaan melodi keberangkatan kereta atau yang dikenal dengan hassha merodī (発車メロディー).
Hassha melody merupakan melodi pendek yang diputar di peron stasiun sebagai tanda bahwa kereta akan segera berangkat. Suara ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang, khususnya bagi mereka yang sering menggunakan kereta untuk bekerja, sekolah, maupun bepergian.


Bukan Sekadar Penanda Keberangkatan


Berbeda dengan bunyi bel atau alarm biasa, melodi keberangkatan kereta di Jepang memiliki variasi yang menarik. Setiap stasiun dapat menggunakan melodi yang berbeda sehingga penumpang bisa mengenali ciri khas suatu stasiun melalui suara yang diperdengarkan.
Melodi tersebut biasanya dibuat dengan durasi singkat agar penumpang mengetahui bahwa kereta akan segera berangkat tanpa mengganggu aktivitas di stasiun. Selain memiliki fungsi sebagai penanda keberangkatan, musik ini juga memberikan suasana tersendiri bagi lingku Bukan Sekadar Penanda Keberangkat dian ngan stasiun.


Melodi yang Terinspirasi dari Budaya Populer


Salah satu hal menarik dari hassha melody adalah penggunaan musik yang terinspirasi dari budaya populer maupun identitas daerah setempat.
Contohnya dapat ditemukan di Stasiun Takadanobaba, Tokyo. Stasiun ini menggunakan melodi yang berasal dari lagu tema anime Astro Boy. Pemilihan melodi tersebut memiliki hubungan dengan Osamu Tezuka, pencipta Astro Boy, yang memiliki keterkaitan dengan kawasan Takadanobaba.
Penggunaan melodi ini menjadikan Stasiun Takadanobaba memiliki ciri khas tersendiri. Penumpang tidak hanya mendengar suara penanda keberangkatan, tetapi juga dapat mengenali hubungan antara sebuah tempat dengan budaya populer Jepang.

Musik sebagai Bagian dari Identitas Lokal



Keberadaan melodi stasiun menunjukkan bagaimana Jepang memanfaatkan unsur budaya dalam kehidupan sehari-hari. Musik tidak hanya digunakan sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari identitas suatu wilayah.
Melodi yang dipilih oleh sebuah stasiun dapat mencerminkan karakter daerah, memperkenalkan karya budaya populer, hingga menciptakan pengalaman yang lebih berkesan bagi para penumpang.
Hal ini juga memperlihatkan bahwa fasilitas transportasi umum dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kebudayaan kepada masyarakat luas.

Penutup


Hassha melody merupakan salah satu keunikan dalam sistem transportasi kereta di Jepang. Meskipun terdengar sederhana, melodi keberangkatan ini memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memberikan tanda bahwa kereta akan segera berangkat.
Melalui musik, Jepang mampu menghadirkan identitas lokal dan unsur budaya ke dalam aktivitas sehari-hari. Dari sini, kita dapat melihat bahwa hal sederhana seperti suara di peron stasiun ternyata dapat menjadi bagian menarik dari kebudayaan sebuah negara.




Sumber: 

https://www.nippon.com/en/japan-topics/g02436/japan%E2%80%99s-fascination-with-train-station-melodies.html

 
Penyunting : WA


#SatoriPedia#HimaSatori #DivisiKominfo 
_____________________________ 

Bupma_Muhammad Hafizh Mumtaz
Wabupma_Teguh Nur Rahmansyah

Follow us on
-YouTube: Hima Satori
-Instagram: Himasatorifkipunri
-Facebook: Hima Satori Fkipur
-Tiktok: Hima Satori
-Blogspot/Website:himasatorifkipur.blogspot.com
-Email:himasatorifkipur@gmail.com

Rabu, 07 Oktober 2026

SatoriPedia: MENGENAL DIALEK BAHASA JEPANG



Konnichiwa, Mina-san!


Tahukah kamu? Bahasa Jepang yang digunakan masyarakat Jepang ternyata tidak hanya terdiri dari satu bentuk bahasa. Selain bahasa Jepang standar, terdapat berbagai dialek atau 方言(ほうげん / hōgen) yang digunakan oleh masyarakat di berbagai daerah Jepang.

Dialek bahasa Jepang merupakan variasi bahasa yang digunakan berdasarkan wilayah tertentu. Perbedaan tersebut dapat terlihat dari kosakata, tata bahasa, pengucapan, aksen, maupun intonasi yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Jepang standar sendiri dikenal sebagai 標準語(ひょうじゅんご / hyōjungo) dan digunakan secara luas sebagai bentuk bahasa yang umum dipahami di Jepang.

Beragam Dialek di Jepang


Jepang memiliki banyak dialek yang berkembang sesuai dengan wilayah dan sejarah masyarakatnya. Beberapa dialek yang cukup dikenal antara lain Kansai-ben(関西弁・かんさいべん), Tohoku-ben(東北弁・とうほくべん), Hokkaido-ben(北海道弁・ほっかいどうべん), dan berbagai dialek lainnya.
Di wilayah Tohoku, misalnya, terdapat dialek yang dikenal dengan sebutan Zūzū-ben(ズーズー弁). Dialek ini memiliki ciri khas dalam pengucapan yang membuatnya terdengar berbeda dari bahasa Jepang standar.
Sementara itu, di wilayah Kansai terdapat Kansai-ben(関西弁), yang digunakan di daerah seperti Osaka dan Kyoto. Kyoto juga memiliki bentuk bahasa khas yang dikenal sebagai Kyō-kotoba(京言葉・きょうことば). 




Perbedaan dalam Kosakata


Salah satu hal yang menarik dari dialek bahasa Jepang adalah adanya kosakata yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Sebagai contoh, terdapat kata めんこい(menkoi) yang digunakan dalam beberapa dialek Jepang Timur dengan makna seperti “imut” atau “cantik”. Sementara itu, dalam dialek Kansai terdapat kata おもろい(omoroi) yang memiliki arti “lucu”. Di beberapa wilayah Kyushu, terdapat pula kata ばってん(batten) yang dapat digunakan dengan makna “tetapi”.
Perbedaan seperti ini menunjukkan bahwa satu makna dapat memiliki bentuk ungkapan yang berbeda tergantung pada daerah tempat bahasa tersebut digunakan.

Dialek dan Identitas Daerah


Dialek tidak hanya menjadi perbedaan dalam cara berbicara, tetapi juga menjadi salah satu bagian dari identitas masyarakat suatu daerah. Dialek berkembang bersama sejarah, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat yang menggunakannya.
Namun, perkembangan zaman juga memberikan tantangan bagi keberadaan beberapa bahasa dan dialek di Jepang. Beberapa bahasa daerah mengalami penurunan jumlah penutur sehingga terancam mengalami kepunahan. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga keberagaman bahasa sebagai bagian dari kekayaan budaya.
Menariknya Mempelajari Dialek Jepang
Bagi pembelajar bahasa Jepang, mengenal dialek dapat memberikan pemahaman bahwa bahasa Jepang yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu sama dengan bahasa Jepang yang dipelajari di kelas.
Dengan mempelajari dialek, kita dapat mengenal lebih jauh perbedaan bahasa, budaya, serta karakteristik masyarakat dari berbagai wilayah di Jepang.
Jadi, bahasa Jepang ternyata tidak hanya memiliki satu cara berbicara. Di balik bahasa Jepang standar, terdapat berbagai dialek yang menunjukkan betapa beragamnya bahasa dan budaya masyarakat Jepang.

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Dialek_bahasa_Jepang

Penyunting: WA

#himasatori #SatoriPedia
#DivisiKominfo

---

Bupati Mahasiswa: Muhammad Hafizh Mumtaz
Wakil Bupati Mahasiswa: Teguh Nur Rahmansyah

Follow us on

-YouTube: Hima Satori
-Instagram: Himasatorifkipunri
-Facebook: Hima Satori Fkipur
-TikTok: Hima Satori
-Blogspot/Website: himasatorifkipur.blogspot.com
-Email: himasatorifkipur@gmail.com


SATORI PEDIA:MENGENAL STIKER KHUSUS PADA KENDARAAN DI JEPANG

 


Konnichiwa, Mina-san!


Tahukah kamu? Di Jepang terdapat beberapa tanda atau stiker khusus yang dipasang pada kendaraan. Tanda tersebut bukan sekadar hiasan, tetapi memberikan informasi mengenai kondisi pengemudi agar pengguna jalan lainnya dapat lebih berhati-hati.


Ada empat tanda yang perlu diketahui, yaitu 初心者マーク(しょしんしゃマーク / Shoshinsha Mark), 高齢運転者マーク(こうれいうんてんしゃマーク / Kōrei Untensha Mark), 聴覚障害者マーク(ちょうかくしょうがいしゃマーク / Chōkaku Shōgaisha Mark), dan 身体障害者マーク(しんたいしょうがいしゃマーク / Shintai Shōgaisha Mark).


1. Shoshinsha Mark(初心者マーク)

Stiker ini dikenal sebagai Wakaba Mark(若葉マーク). Bentuknya menyerupai daun muda, dengan warna hijau dan kuning.

Tanda ini digunakan oleh pengemudi yang baru mendapatkan SIM dan masih memiliki pengalaman mengemudi kurang dari satu tahun. Penggunaan tanda ini diwajibkan oleh hukum Jepang. Pengemudi yang tidak memasangnya dapat dikenai sanksi berupa pembayaran uang pelanggaran.


2. Kōrei Untensha Mark(高齢運転者マーク)

Tanda ini digunakan oleh pengemudi yang berusia 70 tahun atau lebih. Tanda tersebut dikenal dengan sebutan Yotsuba Mark(四つ葉マーク) atau Momiji Mark(もみじマーク).

Bentuk tanda yang digunakan saat ini menyerupai empat daun, dengan warna yang berbeda. Sebelumnya, tanda ini juga dikenal dengan bentuk daun momiji.

Penggunaan tanda ini tidak diwajibkan oleh hukum, tetapi pengemudi berusia 70 tahun ke atas dianjurkan untuk memasangnya agar pengendara lain dapat mengetahui dan lebih berhati-hati.


3. Chōkaku Shōgaisha Mark(聴覚障害者マーク)

Tanda ini digunakan oleh pengemudi yang memiliki gangguan pendengaran dan tetap memenuhi syarat untuk mengemudikan kendaraan.

Bentuknya berupa gambar kupu-kupu, dengan warna kuning dan hijau. Tanda ini membantu pengendara lain mengetahui bahwa pengemudi mungkin tidak dapat mendengar suara tertentu, seperti suara klakson.



4. Shintai Shōgaisha Mark(身体障害者マーク)

Tanda ini digunakan oleh pengemudi dengan keterbatasan fisik pada anggota tubuh yang tetap dapat mengemudikan kendaraan.

Tanda ini dikenal juga sebagai Clover Mark(クローバーマーク) karena bentuknya menyerupai daun semanggi berwarna putih dengan latar biru. Penggunaan tanda ini tidak diwajibkan oleh hukum. Kendaraan yang menggunakan tanda tersebut dapat menggunakan tempat parkir yang memiliki tanda untuk pengguna kursi roda.

Pentingnya Memahami Tanda pada Kendaraan

Keempat tanda tersebut membantu pengguna jalan mengetahui kondisi pengemudi di sekitarnya. Ketika melihat kendaraan yang menggunakan salah satu tanda tersebut, pengendara lain diharapkan lebih berhati-hati, tidak terlalu dekat, dan tidak memotong jalur kendaraan secara sembarangan.

Memahami tanda-tanda ini juga menjadi bagian dari mengenal kehidupan sehari-hari di Jepang. Bukan hanya soal aturan lalu lintas, tetapi juga tentang bagaimana pengguna jalan saling memperhatikan dan memberikan ruang kepada pengemudi lain agar dapat berkendara dengan aman.

Dengan mengenali bentuk dan fungsi setiap tanda, kita dapat lebih mudah memahami berbagai kebiasaan serta aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di Jepang.


Sumber:

https://tabunka.tokyo-tsunagari.or.jp/topics/motto/nihongo_2404.html

Senin, 14 September 2026

SATORI PEDIA : Banknote & Postage Stamp Museum, Museum Uang dan Perangko di Jepang

 


Konnichiwa Mina-san! Bagaimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan dapat menjalankan aktivitas seperti biasa ya!

Jepang tidak hanya terkenal dengan budaya tradisional, teknologi modern, dan keindahan alamnya. Negara ini juga memiliki berbagai museum unik yang menyimpan sejarah serta perkembangan kehidupan masyarakatnya. Salah satunya adalah Banknote & Postage Stamp Museum, yaitu museum yang membahas sejarah uang kertas, perangko, dan teknologi percetakan.


Apa Itu Banknote & Postage Stamp Museum?

Banknote & Postage Stamp Museum merupakan museum yang dikelola oleh National Printing Bureau, yaitu lembaga yang bertanggung jawab dalam pembuatan uang kertas, perangko, serta beberapa dokumen penting di Jepang.

National Printing Bureau mulai berdiri pada tahun 1871 dengan nama Paper Money Office atau Shiheishi di bawah Kementerian Keuangan Jepang. Sejak saat itu, lembaga ini terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan perkembangan teknologi percetakan.

Museum ini dibuat untuk memperkenalkan sejarah berbagai produk percetakan kepada masyarakat. Jadi, pengunjung tidak hanya dapat melihat uang kertas dan perangko, tetapi juga bisa mengetahui bagaimana benda-benda tersebut dibuat dan bagaimana teknologi digunakan dalam proses pembuatannya.


Apa Saja yang Bisa Dilihat?

Di dalam museum, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi yang berhubungan dengan uang, perangko, dan dokumen penting. Koleksi tersebut meliputi uang kertas Jepang dan negara lain, perangko dari berbagai masa, surat berharga, obligasi pemerintah, paspor, serta uang kertas dari zaman sebelum era Meiji.

Selain koleksi tersebut, museum ini juga menampilkan mesin percetakan, alat pembuatan uang, dan pelat cetak yang digunakan dalam proses percetakan. Pengunjung dapat melihat secara lebih dekat bagaimana proses pembuatan uang kertas dan perangko dilakukan.

Museum ini juga memiliki pameran interaktif mengenai tinta bercahaya pada uang kertas. Melalui pameran tersebut, pengunjung dapat mengetahui bahwa terdapat jenis tinta tertentu yang dapat memancarkan cahaya dan digunakan sebagai salah satu bagian dari teknologi keamanan uang.






Sejarah Uang dan Teknologi Percetakan

Selain menampilkan berbagai koleksi, museum ini juga membahas sejarah perkembangan uang kertas, perangko, obligasi pemerintah, paspor, serta perjalanan National Printing Bureau dari masa ke masa.

Salah satu hal penting yang dijelaskan dalam museum adalah teknologi ant pemalsuan. Teknologi ini digunakan agar uang kertas memiliki ciri khusus dan tidak mudah ditiru oleh orang lain.

Pembuatan uang kertas ternyata tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mencetak gambar dan tulisan. Prosesnya juga memerlukan ketelitian, bahan khusus, alat percetakan, serta teknologi keamanan yang terus dikembangkan. Hal ini menunjukkan bahwa uang kertas memiliki proses pembuatan yang cukup rumit dan tidak bisa dilakukan secara sembarangan.


Lokasi dan Informasi Kunjungan

Banknote & Postage Stamp Museum terletak di 1-6-1 Oji, Kita-ku, Tokyo 114-0002, Jepang. Museum ini buka setiap hari Selasa sampai Minggu, mulai pukul 09.30 hingga 17.00 waktu Jepang.

Museum tutup setiap hari Senin dan selama libur akhir tahun, yaitu pada 28 Desember sampai 3 Januari. Jika hari Senin bertepatan dengan hari libur nasional, museum akan tutup pada hari Selasa berikutnya.

Menariknya, pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk karena museum ini dapat dikunjungi secara gratis. Lokasinya juga cukup mudah dijangkau karena berada sekitar tiga menit berjalan kaki dari Stasiun Oji.


Mengapa Museum Ini Menarik?

Banknote & Postage Stamp Museum menarik untuk dikunjungi karena museum ini tidak hanya memperlihatkan uang dan perangko sebagai benda yang digunakan sehari-hari. Museum ini juga menjelaskan sejarah, proses pembuatan, serta teknologi yang digunakan untuk menjaga keamanan benda-benda tersebut.

Melalui museum ini, pengunjung dapat memahami bahwa uang kertas dan perangko memiliki hubungan dengan sejarah, ekonomi, teknologi, dan kehidupan masyarakat Jepang. Pengunjung juga dapat melihat bagaimana perkembangan teknologi percetakan membantu menghasilkan produk yang lebih aman dan sulit dipalsukan.

Penutup

Banknote & Postage Stamp Museum dapat menjadi salah satu pilihan wisata edukatif ketika berkunjung ke Tokyo. Museum ini memberikan pengetahuan mengenai sejarah uang, perangko, dan perkembangan teknologi percetakan Jepang dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.

Dengan koleksi yang beragam, pameran interaktif, lokasi yang mudah dijangkau, serta tiket masuk gratis, museum ini cocok dikunjungi oleh siapa saja yang ingin mengenal sisi lain dari Jepang.


Jadi, Mina-san, kalau berkesempatan pergi ke Tokyo, tertarik untuk mengunjungi museum ini? 



Sumber

https://www.npb.go.jp/en/museum/museum.html?utm_source.com


Penyunting: WA

#himasatori #SatoriPedia

#DivisiKominfo


---


Bupati Mahasiswa: Muhammad Hafizh Mumtaz

Wakil Bupati Mahasiswa: Teguh Nur Rahmansyah


Follow us on

-YouTube: Hima Satori

-Instagram: Himasatorifkipunri

-Facebook: Hima Satori Fkipur

-TikTok: Hima Satori

-Blogspot/Website: himasatorifkipur.blogspot.com

-Email: himasatorifkipur@gmail.com

Kamis, 20 Agustus 2026

SATORI PEDIA Uguisubari: Lantai “Bernyanyi” yang Menjadi Sistem Keamanan di Jepang

 




Konnichiwa Mina-san! Bagaimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan dapat menjalankan aktivitas seperti biasa ya!

Jepang dikenal memiliki berbagai bangunan tradisional dengan desain yang unik dan penuh makna. Salah satu keunikannya dapat ditemukan pada uguisubari (鴬張り) atau nightingale floor, yaitu lantai kayu yang dapat mengeluarkan suara ketika seseorang berjalan di atasnya. Suara tersebut terdengar seperti kicauan burung dan menjadi salah satu contoh menarik dari perpaduan antara arsitektur, teknologi, dan sistem keamanan tradisional Jepang.


Apa Itu Uguisubari?

Uguisubari secara harfiah berkaitan dengan suara burung uguisu atau burung bulbul Jepang. Istilah ini digunakan untuk menyebut lantai kayu yang menghasilkan suara ketika diinjak.
Berbeda dengan lantai kayu yang berderit karena sudah tua atau rusak, suara pada uguisubari muncul karena konstruksi khusus yang memang dirancang untuk menghasilkan bunyi. Ketika seseorang berjalan di atas lantai, papan akan mengalami sedikit pergerakan. Pergerakan tersebut menyebabkan bagian logam yang berada di bawah papan bergesekan dan menghasilkan suara.
Suara yang muncul dapat terdengar seperti bunyi kicauan burung. Keunikan inilah yang kemudian membuatnya dikenal sebagai nightingale floor atau “lantai burung bulbul”.




Uguisubari sebagai Sistem Keamanan

Salah satu fungsi menarik dari uguisubari adalah sebagai sistem peringatan terhadap keberadaan seseorang. Pada masa lalu, keamanan merupakan hal penting bagi bangunan-bangunan tertentu di Jepang. Dengan adanya lantai yang berbunyi ketika dilewati, penghuni dapat mengetahui apabila ada seseorang yang berjalan di koridor.
Salah satu contoh uguisubari yang terkenal terdapat di Kastil Nijō di Kyoto. Kastil ini dibangun pada awal abad ke-17 dan memiliki koridor dengan lantai yang menghasilkan suara ketika diinjak.
Dengan cara tersebut, seseorang yang berjalan di koridor tidak dapat bergerak secara diam-diam karena suara lantai akan memberi tanda kepada orang-orang di dalam bangunan. Sistem sederhana ini menunjukkan bagaimana unsur arsitektur dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keamanan.





Bagaimana Lantai Uguisubari Menghasilkan Suara?

Suara pada uguisubari berasal dari hubungan antara papan lantai dan komponen yang terdapat di bawahnya. Ketika seseorang menginjak papan, tekanan membuat papan sedikit bergerak. Pergerakan tersebut menyebabkan komponen logam bergesekan dan menghasilkan bunyi.
Menariknya, suara yang dihasilkan bukan hanya sekadar bunyi berderit biasa. Sistem konstruksinya membuat suara tersebut terdengar khas dan dapat muncul ketika seseorang berjalan melewati bagian lantai tersebut.
Hal ini memperlihatkan bahwa teknik tradisional Jepang sudah memperhatikan hubungan antara material, konstruksi, dan fungsi dalam sebuah bangunan.

Keunikan Arsitektur Tradisional Jepang
Uguisubari menjadi contoh bahwa arsitektur tradisional Jepang tidak hanya mengutamakan keindahan. Setiap bagian bangunan dapat memiliki fungsi tertentu yang berkaitan dengan kehidupan penggunanya.
Lantai yang bagi orang biasa mungkin terlihat seperti lantai kayu sederhana ternyata memiliki sistem yang dapat membantu menjaga keamanan bangunan. Keunikan tersebut juga membuat uguisubari menjadi daya tarik bagi orang-orang yang mengunjungi bangunan bersejarah di Jepang.

Selain itu, keberadaan uguisubari memperlihatkan bagaimana masyarakat Jepang pada masa lalu mampu memanfaatkan teknik konstruksi yang sederhana untuk menyelesaikan permasalahan praktis.
Uguisubari di Zaman Sekarang
Saat ini, uguisubari masih menjadi salah satu bagian menarik dari warisan arsitektur Jepang. Pengunjung dapat merasakan langsung pengalaman berjalan di atas lantai yang menghasilkan suara di beberapa bangunan bersejarah.
Keberadaannya tidak hanya menarik dari sisi sejarah, tetapi juga memberikan gambaran mengenai cara masyarakat pada masa lalu memadukan budaya, arsitektur, dan keamanan.
Uguisubari akhirnya menjadi salah satu contoh bahwa bangunan bersejarah dapat menyimpan berbagai teknologi dan ide yang mungkin tidak langsung terlihat dari bentuk luarnya.


Sumber

https://science.howstuffworks.com/engineering/structural/creaking-floors-served-as-security-warning-system-in-ancient-japan.htm


Penyunting: WA

#himasatori #SatoriPedia
#DivisiKominfo

---

Bupati Mahasiswa: Muhammad Hafizh Mumtaz
Wakil Bupati Mahasiswa: Teguh Nur Rahmansyah

Follow us on

-YouTube: Hima Satori
-Instagram: Himasatorifkipunri
-Facebook: Hima Satori Fkipur
-TikTok: Hima Satori
-Blogspot/Website: himasatorifkipur.blogspot.com
-Email: himasatorifkipur@gmail.com

Jumat, 28 November 2025

Satori Pedia: Kintsugi, Seni Tradisional Jepang dalam Memperbaiki Keramik dengan Emas

Konnichiwa Mina-san! Bagaimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan dapat menjalankan aktivitas seperti biasa ya

Di tengah kemajuan teknologi dan budaya modern Jepang, terdapat satu tradisi kuno yang justru semakin bersinar karena keunikannya yaitu Kintsugi (金継ぎ). Seni memperbaiki keramik yang pecah ini bisa menghidupkan kembali benda yang rusak, dan juga menghadirkan nilai estetika baru melalui garis-garis emas yang menonjolkan retakan. Bukan hanya teknik, Kintsugi merupakan refleksi dari cara pandang masyarakat Jepang terhadap kerusakan, ketidaksempurnaan, dan keberlanjutan.

Apa Itu Kintsugi

Kintsugi (金継ぎ), yang juga dikenal sebagai Kintsukuroi (金繕い), secara harfiah berarti “sambungan emas atau perbaikan dengan emas”. Teknik ini adalah metode tradisional Jepang untuk memperbaiki keramik atau porselen yang pecah atau retak dengan menggunakan lac (漆 atau “urushi” dalam bahasa Jepang) sebagai perekat kemudian menyempurnakan sambungan dengan bubuk emas, perak, atau platina. 

Alih-alih menyembunyikan kerusakan, Kintsugi memilih untuk menonjolkan retakan dan membuatnya menjadi bagian dari keindahan benda itu, menjadikannya bukti sejarah dan perjalanan hidup si benda. 

Orang sedang memperbaiki benda yang retak

Asal Usul & Sejarah Singkat

Teknik reparasi keramik menggunakan lac telah diterapkan di Jepang bahkan sejak masa prasejarah ditemukan artefak dari zaman Jōmon yang menggunakan lac untuk memperbaiki benda. 

Namun, bentuk estetis seperti Kintsugi dengan sambungan emas atau logam mulia diyakini mulai berkembang pada periode Muromachi period (sekitar abad ke-15), bersamaan dengan berkembangnya budaya teh (茶の湯 / chanoyu). 

Konon, ketertarikan terhadap metode ini muncul ketika pemilik mangkuk teh berlubang mengirim mangkuk itu ke luar Jepang untuk diperbaiki, lalu dikembalikan dengan penjepit logam hasilnya dianggap terlalu kasar dan merusak estetika. Para pengrajin Jepang kemudian menciptakan metode yang lebih halus dan artistik menggunakan lac dan emas. 

Sejak saat itu, Kintsugi berkembang sebagai tradisi reparasi sekaligus apresiasi terhadap ketidaksempurnaan dan menjadi bagian dari estetika Jepang yang dikenal sebagai Wabi‑sabi (menghargai kefanaan, ketidaksempurnaan, dan kesederhanaan). 

Contoh sebelum mengenal teknik kintsugi 

Proses & Teknik Kintsugi

Teknik Kintsugi melibatkan beberapa tahap yaitu:

1. Pecahan keramik disatukan menggunakan lac (urushi), yang berfungsi sebagai perekat alami. Lac adalah getah alami dari pohon lacquer ketika mengering, menghasilkan perekat yang kuat, tahan air, dan awet. 

2. Setelah lac mengering dan menyatukan potongan, celah atau bagian yang hilang (jika ada) bisa diisi dengan campuran lac dan bahan pengisi, sebelum finishing. 

3. Tahap akhir adalah menyempurnakan sambungan dengan menaburkan bubuk emas (atau kadang perak/platinum) sehingga sambungan retakan menjadi garis keemasan yang menonjol, menjadikannya dekoratif dan artistik. 

Ada varian teknik misalnya jika bagian asli hilang bisa diganti dengan fragmen keramik lain yang bentuknya mirip (metode “patchwork” / “yobitsugi”). 

Alat yang digunakan untuk kintsugi 

Filosofi di Balik Kintsugi

Retakan dan bekas kerusakan dianggap sebagai bagian dari sejarah, perjalanan, dan identitas benda bukan cacat yang harus disembunyikan. Ini sesuai dengan semangat “mottainai” menghargai benda, tidak mudah membuang sesuatu hanya karena rusak dan dengan estetika Wabi-sabi, yang menghargai kefanaan, ketidaksempurnaan, dan kesederhanaan. 

Secara simbolis, Kintsugi menjadi metafora untuk kehidupan bahwa patah atau rusak bukanlah akhir melainkan bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih kuat, lebih bermakna, dan lebih indah. Bahkan di masa modern, filosofi ini mendapat perhatian sebagai cara pandang hidup menerima kekurangan, menghargai proses penyembuhan, dan melihat nilai dalam ketidaksempurnaan. 

Kintsugi di Zaman Sekarang & Mengapa Populer Lagi

Dalam era konsumsi massal dan barang sekali pakai, Kintsugi menghadirkan alternatif daripada membuang barang yang retak, kita bisa memperbaiki dan memuliakan kembali benda tersebut selaras dengan prinsip keberlanjutan. Minat terhadap Kintsugi meningkat tidak hanya di Jepang, tetapi juga di luar negeri. Banyak orang tertarik karena nilai estetika dan filosofi yang lembut tentang ketidaksempurnaan dan pemulihan. 

Selain untuk keramik tradisional Jepang, Kintsugi kadang diterapkan pada keramik modern, benda sehari-hari, atau sebagai ekspresi seni memperluas makna klasiknya menjadi relevan di dunia kontemporer. 

Benda-benda yang diperbaiki dengan teknik kintsugi

Bagi siapa pun yang tertarik pada seni, budaya, atau filosofi hidup, Kintsugi adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini memperlihatkan bahwa menghargai warisan, menjaga kelestarian, dan merayakan ketidaksempurnaan bisa menjadi tindakan penuh makna.

Jadi, bagaimana denganmu? Siapkah kamu merangkai kembali “retakan-retakan” dalam hidup dengan emasmu sendiri?
Kintsugi mengajarkan bahwa luka bukan sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi dapat menjadi bagian paling berharga dari perjalanan kita.


Sumber: 
https://kintsugi-girl.com/7558/
https://www.otakaraya.jp/contents/gold-platinum/gold/japan-dentougihou-kaisetsu/
https://ja.wikipedia.org/wiki/%E9%87%91%E7%B6%99%E3%81%8E


Penyunting: Afif Adya Putra 


Bupma_Nuzul Putri Fitria
Wabup_Ihwan Nuriman
--------------------------------------------
Divisi Komunikasi dan Informasi
Hima Satori

Follow us on 👇🏼
-YouTube : Hima Satori
-Instagram: Himasatorifkipunri
-Facebook: Hima Satori Fkipur
-Tiktok: Hima Satori
-Blogspot/Website: himasatorifkipur.blogspot.com
-Email: himasatorifkipur@gmail.com

Satori Pedia: Ojigi, Seni Membungkuk dalam Etika Jepang

Konnichiwa Mina-san! Bagaimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan dapat menjalankan aktivitas seperti biasa ya

Di balik kesederhanaannya, ojigi merupakan tradisi membungkuk dalam budaya Jepang yang menyimpan makna mendalam tentang kesopanan, kerendahan hati, dan penghormatan. Gestur yang tampak kecil ini telah menjadi bahasa tubuh utama masyarakat Jepang dalam membangun hubungan sosial. 

Akar Sejarah dan Filosofi di Balik Ojigi

Tradisi ojigi telah ada sejak ratusan tahun lalu, dipengaruhi kuat oleh ajaran Buddhisme dan Konfusianisme yang menekankan rasa hormat serta kerendahan hati. Pada masa feodal Jepang, terutama di era samurai, membungkuk menjadi bagian penting dari etiket dan disiplin seorang prajurit. Bentuk dan kedalaman ojigi mencerminkan struktur sosial yang ketat mengenai siapa yang dihormati, siapa yang lebih tinggi kedudukannya, dan bagaimana seseorang menunjukkan kesungguhan.

Seiring perkembangan zaman, praktik ini menyebar ke semua lapisan masyarakat hingga menjadi kebiasaan sehari-hari. Tidak hanya dalam konteks formal, ojigi juga hadir dalam berbagai momen sosial seperti menyapa, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, hingga mengakhiri percakapan. Ia menjadi jejak budaya yang melampaui kata-kata, menghubungkan masa lalu dan masa kini masyarakat Jepang.

Budaya Ojigi dari jaman dahulu

Jenis-Jenis Ojigi dan Maknanya

Eshaku, membungkuk ringan sekitar 15 derajat, dilakukan dalam situasi santai seperti berpapasan dengan rekan kerja.

Keirei, sekitar 30 derajat, digunakan dalam suasana formal seperti pertemuan bisnis atau saat menyampaikan terima kasih dengan lebih sopan.

Yang paling dalam adalah saikeirei, membungkuk 45 derajat atau lebih, sebagai bentuk penghormatan mendalam atau permohonan maaf yang sungguh-sungguh.

Setiap gerakan dilakukan dengan penuh kesadaran seperti punggung lurus, pandangan tertunduk, dan sikap tubuh tenang. Detail kecil ini mencerminkan pentingnya ketepatan dan ketulusan dalam budaya Jepang. Bagi mereka, cara membungkuk tidak hanya soal bentuk, tetapi juga mencerminkan karakter seseorang.

Ilustrasi Gerakan 

Ojigi dalam Kehidupan Modern Jepang

Meski Jepang telah berubah menjadi negara maju dengan kota-kota futuristik, tradisi ojigi tetap bertahan dan menjadi bagian dari identitas masyarakat modern. Di sekolah, anak-anak diajarkan cara membungkuk dengan benar sejak dini. Di perusahaan, ojigi menjadi etika dasar dalam pelayanan pelanggan dan dunia kerja profesional. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Jepang tanpa sadar melakukannya saat meminta maaf kecil, saat menyapa tetangga, atau sekadar mengekspresikan rasa terima kasih.

Budaya Ojigi yang diterapkan di sekolah 

Teknologi pun ikut mengadopsi budaya ini. Telepon seluler, robot pelayanan, dan karakter digital Jepang kerap digambarkan sedang membungkuk sebagai simbol kesopanan. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya nilai ojigi tertanam dalam kehidupan modern, menjadikannya ciri khas yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Jepang, memahami dan merasakan praktik ojigi adalah pengalaman budaya yang berharga. Dalam setiap tundukan kepala, tersimpan pesan penghargaan yang hangat dan tulus sebuah pengingat bahwa kesopanan dapat menghubungkan manusia tanpa perlu satu kata pun terucap.


Sumber:
https://1200irori.jp/content/learn/detail/case08
https://haa.athuman.com/media/japanese/culture/1477/
https://livejapan.com/ja/in-tokyo/in-pref-tokyo/in-asakusa/article-a0000709/
https://www.nippon.com/ja/guide-to-japan/gu020001/
https://ja.wikipedia.org/wiki/%E3%81%8A%E8%BE%9E%E5%84%80


Penyunting: Afif Adya Putra 


Bupma_Nuzul Putri Fitria
Wabup_Ihwan Nuriman
--------------------------------------------
Divisi Komunikasi dan Informasi
Hima Satori

Follow us on 👇🏼
-YouTube : Hima Satori
-Instagram: Himasatorifkipunri
-Facebook: Hima Satori Fkipur
-Tiktok: Hima Satori
-Blogspot/Website: himasatorifkipur.blogspot.com
-Email: himasatorifkipur@gmail.com